PENALARAN (TUGAS 1 BAHASA INDONESIA 2)

Posted: Maret 12, 2013 in Tak Berkategori

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

Ada dua jenis metode dalam penalaran yaitu induktif dan deduktif :

Penalaran Induktif

Penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari hal-hal yang khusus.

Ada 3 macam penalaran induktif :

1. Generalisasi

Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada. Dibagi menjadi 2 :

• Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif => Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.

Contoh :

– Sensus Penduduk.

– Jika dipanaskan, besi memuai.

Jika dipanaskan, baja memuai.

Jika dipanaskan, tembaga memuai.

Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.

• Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif => Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.

Contoh : Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

2. Analogi

Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.

Tujuan dari analogi :

• Meramalkan kesamaan.

• Mengelompokkan klasifikasi.

• Menyingkapkan kekeliruan.

Contoh :

o Leeteuk adalah personil Super Junior. Leeteuk berbakat di semua bidang hiburan.

Yesung adalah personil Super Junior.

Oleh sebab itu, Yesung berbakat di semua bidang hiburan.

3. Kausal

Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat. Terdiri dari 3 pola, yaitu :

• Sebab ke akibat

Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek.

Contoh : Karena terjatuh di tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.

• Akibat ke sebab

Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap penyebabnya. Contoh : Jari kelingking Leeteuk patah karena memukul papan itu.

• Akibat ke akibat

Dari satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.

Penalaran Deduktif

Penalaran deduktif didasarkan pada teori yang berlaku umum tentang hal / gejala. Ditarik kesimpulan hal yang khusus. Merupakan bagian dari hal/gejala tadi. Secara garis besar maka penalaran deduktif adalah bergerak dari hal atau gejala yang khusus menjadi gejala yang khusus.

Jenis-jenis penalaran deduktif :

1. Silogisme

Penalaran deduksi biasanya sering digunakan adalah silogisme. Silogisme adala penalaran secara tidak langsung. Dalam silogisme kita terdapat dua premis dan satu premis kesimpulan. Kedua premis itu adalah premis umum/premis mayor dan premis khusus/premis minor. Dari kedua premis tersebut kesimpulan dirumuskan.

Rumus menentukan kesimpulan sebagai berikut :

PU : semua A = B

PK : C = A

K : C = B

Contoh :

PU : Semua hewan yang mempunyai telinga berkembang biak dengan melahirkan

PK : Rusa memiliki telinga

K : Rusa tentu berkembang biak dengan

2. Entinem

Entinem adalah silogisme yang dipersingkat, hanya terdiri dari premis khusus dan kesimpulan. Entimen mengandung penyimpulan sebab akibat dari kedua preposisi tersebut, yaitu preposisi khusus (premis khusus) merupakan sebab bagi apa yang terkandung di dalam preposisi kesimpulan

Contoh :

Silogisme kategorial :

PU : Semua dosen (A) adalah lulusan perguruan tinggi (B)\

PK : Bapak Budi C adalah seorang dosen (A)

K : Bapak Budi C adalah seorang dosen (B)

Entinem : Bapak Budi adalah lulusan perguruan tinggi ia seorang dosen KPK

Evidensi

Evidensi adalah semua fakta yang ada, yang dihubung-hubungkan unuk membuktikan adanya sesbuatu. Evidensi merupakan hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena. Evidensi sering juga disebut bukti empiris.

Wujud Evidensi

Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila dia menganggap pendengar sudah mengetahuo fakta – faktanya, serta memahami kesimpulan yang diberikan kepadanya.

Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari sumber tertentu. Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau sesuatu yang ada secara nyata.

Inferensi

Inferensi adalah mekanisme berfikir dan pola-pola penalaran yang digunakan oleh sistem untuk mencapai suatu kesimpulan. Metode ini akan menganalisa masalah tertentu dan selanjutnya akan mencari jawaban atau kesimpulan yang terbaik. Penalaran dimulai dengan mencocokan kaidah-kaidah dalam basis pengetahuan dengan fakta-fakta yang ada dalam basis data.

Inferensi ada 2, yaitu :

1. Inferensi Langsung

Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.

Contoh:

• Bu, besok temanku berulang tahun. Saya diundang makan malam. Tapi saya tidak punya baju baru, kadonya lagi belum ada”.

Maka inferensi dari ungkapan tersebut: bahwa tidak bisa pergi ke ulang tahun temanya.

Contoh:

• Pohon yang di tanam pak Budi setahun lalu hidup.

dari premis tersebut dapat kita lansung menari kesimpulan (inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak budi setahun yang lalu tidak mati.

2. Inferensi Tak Langsung

Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua / lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-preposisi lama.

Contoh:

A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.

B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.

Inferensi yang menjembatani kedua ujaran tersebut misalnya (C) berikut ini.

C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.

Contoh yang lain;

A : Saya melihat ke dalam kamar itu.

B : Plafonnya sangat tinggi.

Sebagai missing link diberikan inferensi, misalnya:

C: kamar itu memiliki plafon

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

http://catatanrizkyaburizal.blogspot.com/2013/03/penalaran.html

http://diskusikuliah.wordpress.com/2010/10/18/forward-chaining-dan-backward-chaining/#more-481

http://nobelug.blogspot.com/2012/04/ringkasan-buku.html

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 3KA25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s