SUKU TUGUTIL YANG BERSAHAJA

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata masih terdapat komunitas suku Togutil dan suku Tobelo yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli.

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Suku Tugutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Kenyataanya, komunikasi antara Simon dengan orang-orang Tugutil sangat lancar, seperti tidak menunjukkan adanya perbedaan. Yang terlihat nyata berbeda, budaya dan ciri fisiknya.

Orang Tugutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Tugutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri-ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo.

Ada cerita, orang Tugutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915 Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan. Dari sini lah rupanya beredar cerita semacam itu. Namun cerita ini rupanya tidak benar. Orang-orang Tugutil memang penghuni hutan sejati, dan sayangnya aku tidak sempat mendengar cerita apa-apa mengenai asal-usul mereka.

Di Totodoku, sekitar 9 atau 10 km dari daerah transmigrasi SP-2, di pinggir ruas jalan Subaim-Buli, tidak jauh dari sebuah sungai yang cukup besar kami menjumpai orang Tugutil.

Tempat itu berupa pemukiman yang terdiri atas beberapa belas bangunan beratap daun sejenis palem yang kontruksinya sangat sederhana sehingga lebih tepat disebut gubuk daripada rumah. Penghuninya, terutama kaum lelaki, sedang berada di dalam hutan, dan beberapa orang lelaki dan wanita tua yang nyaris telanjang; lelaki hanya mengenakan cawat sedangkan wanita bertelanjang dada.

Seorang pemburu tua yang kembali dari hutan, selain hanya bercawat juga membawa sebuah busur sepanjang kira-kira 2 meter dengan beberapa anak panah sepanjang kira-kira 1 meter, dan mata panahnya mereka buat sendiri dari sisa-sisa besi bangunan

Meskipun kebanyakan rumah masih beratapkan daun palem, sebagian diantaranya sudah menggunakan balok dan papan olahan untuk tiang dan dinding.

Di dapur, tempat kami meletakkan barang, nampak sejumlah peralatan makan dan masak seperti lazimnya dapur, kecuali kompor. Sementara, di antara mereka yang telanjang dada ternyata ada beberapa yang segera berpakaian ketika hendak menemuiku.

Dari hasil obrolan, yang menarik adalah kenyataan bahwa beberapa penghuni pemukiman ini memiliki hubungan darah dengan pendatang asal Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Yang terakhir ini, katanya, datang ke situ pada 1958, ketika meletus pemberontakan Permesta di Sulawesi.

Kehidupan Orang Tugutil sesungguhnya amat bersahaja. Mereka hidup dari memukul sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai-sungai, di samping berkebun. Mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual kepada orang-orang di pesisir. Kebun-kebun mereka ditanami dengan pisang, ketela, ubu jalar, pepaya dan tebu.

Namun karena mereka suka berpindah-pindah, dapat diduga kalau kebun-kebun itu tidak diusahakan secara intesif. Dengan begitu, sebagaimana lazimnya di daerah-daerah yang memiliki suku primitif, hutan di daerah ini tidak memperlihatkan adanya gangguan yang berarti.

SOURCE : http://www.halmaherautara.com/artl/61/kebudayaan-sebagai-alat-perekat-masyarakat

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s