Kebudayaan Jakarta Megapolitan

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Jakarta dari metropolitan kini dirancang menuju megapolitan. “Issue” Jakarta Megapolitan marak beberapa bulan lalu sejak mantan Gubernur Ali Sadikin melontarkannya. Tentu saja ada sejumlah persoalan yang harus dibenahi untuk menuju Jakarta Megapolitan yang secara kewilayahan meliputi Propinsi DKI Jakarta, kabupaten dan kota Tangerang, kabupaten dan kota Bekasi, kota Depok, dan beberapa kecamatan di kabupaten Bogor.
Konsep Jakarta Megapolitan tidak dengan sendirinya berarti perluasan wilayah administratif Jakarta dimana meliputi kota dan kabupaten Bekasi, kota dan kabupaten Tangerang, kota Depok, dan sejumlah kecamatan di kabupaten Bogor. Seakan-akan nota bene “wilayah” Jakarta Megapolitan ini sejalan dengan “peta Ciela”.

Tentu saja persoalan perwujudan konsep Jakarta Megapolitan dapat menjadi masalah politis jika dijuruskan ke arah itu karena dapat diperkirakan muncul persoalan peraturan perundangan yang tidak sejalan dengan ini. Wilayah-wilayah kota di lingkungan pemerintah propinsi DKI Jakarta berbeda dalam proses pengangkatan kepala daerahnya dibanding dengan wilayah kota kabupaten sekitar. Di daerah sekitar pengangkatan kepala daerah melalui pilkada sedangkan kepala daerah di wilayah kota Jakata tidak. Di wilayah sekitar terdapat perwakilan daerah yang dipilih melalui pemilu, sedangkan di Jakarta tidak ada melainkan pada tingkat propinsi.
Konsep Jakarta Megapolitan tidak dapat dielakkan mengandung aspek administrasi. Dan itu menyangkut masalah pengaturan dan peraturan yang ditaati semua pihak.
Meski pun pembentukan Jakarta Megapolitan mengandung kerumitan, tetapi pesoalan ini harus mulai dibahas secara bersungguh-sungguh di kalangan masyarakat yang perduli dengan hari depan kotanya.

Kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa untuk terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta, maka Jakarta memerlukan pengembangan wilayah.
Wilayah Jakarta di mmasa lalu berbukit-bukit dan banyak hutan-hutan jati. Sebelum VOC masuk Batavia (1619) terdapat bukit di Jakarta Utara yang disebut Blauwe Bergen dan hutan kayu ulin yang disebut jati batu. Tetapi Belanda menggunduli habis hutan-hutan itu.

Penebangan besar-besaran pada akhirnya membawa dampak buruk. Kota Batavia kekurangan kayu bakar. Karena itu dianjurkan penanaman kayu jati dengan upah yang tinggi. Dalam tahun 1787 pabrik-pabrik gula sudah berdiri di sekeliling Batavia yang memerlukan kayu bakar sementara keperluan tersebut semakin sukar dipenuhi.
Gubernur Jenderal Duurkop, menurut De Haan dalam Preanger, pada tahun 1780 menanam hutan jati di sekitar Batavia. Tetapi penanaman ini pun seratus tahun kemudian menjadi sia-sia karena penebangan.

Jakarta adalah emak bumi yang mengasihi semua penduduknya dengan pelbagai latar belakang etnis dan kepercayaan. Sudah sepatutnya penduduk menyayangi emaknya. Emak bumi yang menyediakan fasilitas pelayanan kota.

Rasa turut memliki antara emak bumi dan penduduk adalah pada disiplin. Penduduk hendaknya mentaati peraturan, memegang kuat disiplin. Tradisi antre sebagai peninggalan kolonial kini nyaris hilang kecuali barangkali di bank. Bahkan di mall orang seling menyelak, tak mau antre.
Fasilitas kota banyak yang dirusak mulai dari halte bus sampai telpon umum. Orang begitu mudah menebang pohon. Di zaman Belanda orang tidak boleh menebang pohon tanpa seizin aparat pmerintah, walau pohon itu tumbuh di halaman rumahnya sendiri.

Sampah dibuang sekehendak hati. Kita miris bila menyaksikan pengendara mobil mewah dengan ringan membuang sampah kulit buah-buahan ke jalan raya. Sungai, atau kali, diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah. Padahal kali berasal dari bahasa India yang artinya semula dewi. Orang zaman dahulu memperlakukan kali seperti dewi, dikitang.

Kesopanan berlalu lintas pun semakin diabaikan. Hak-hak pejalan kaki dirampas di jalan raya, bahkan banyak pengendara kendaraan bermotor menganggap seolah pejalan kaki merupakan gangguan.
Jalan sebagai fasilitas kota banyak yang diambil sebagian untuk keperluan lain seperti berjualan dan terminal bayangan. Sehingga lalu lintas kendaraan menjadi sangat terganggu.
Disiplin sosial sangat lemah, padahal ini merupakan kunci kearah keberhasilan pembangunan. Gunnar Myrdal dalam bukunya yang terkenal Asian Drama mengatakan banyak negara-negara Asia yang tuidak berhasil dalam pembangunan karena gagal menegakkan disiplin sosial masyarakatnya.
Hubungan kota dan penduduknya adalah hubungan ibu dengan anak. Jika “anak” tidak disiplin, maka apa pun cara dan bentuk pelayanan emak bumi menjadi tidak bermanfaat.
Prose transformasi nilai-nilai budaya yang menunjuang perduli lingkungan kiranya harus melalui media pendidikan baik di sekolah mau pun luar sekolah.

Budaya Megapolitan Jakarta

Pengertian Jakarta sebagai kota budaya tidak boleh dipersempit artinya sebagai kota dengan fasilitas kebudyaan dan kesenian. Kita berpengharapan Jakarta sebagai sebuah kota budaya dimana penduduknya menjunjung nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Fasilitas kebudayaan sudah banyak dibangun, dan dipugar, pemerintah propinsi DKI Jakarta seperti Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Wayang Orang di Jl. Senen Raya, Gedung Miss Cicih. Begitu pula fasilitas olahraga. Tetapi sebuah kota tidak dengan sendirinya dapat disebut kota budaya karena adanya fasilitas tersebut. Kota budaya harus juga mengacu pada perilaku penduduk yang berbudaya dalam arti menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, dan etika.
Angka-angka kriminalitas yang kian meningkat menjadi indikasi lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai agama, moral, dan etika. Kejahatan dengan kekerasan masih terjadi setiap hari yang mengambil korban jiwa. Penyalahgunaan obat-obat terlarang masih berlangsung. Perjudian gelap terjadi di sejumlah tempat. Praktek-praktek prostitusi, pelecehan sex terhadap anak-anak di bawah umur, perilaku sex menyimpang menjadi berita yang dihidangkan setiap jam oleh pemancar televisi.
Membangun Jakarta sebagai kota budaya berarti menegakkan hukum secara tegas dan konsekuen. Jakarta bagian yang tak terpisahkan dari nation state Indonesia. Jakarta harus menjadi contoh penegakkan hukum. Karena itu harus ditumbuhkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai nation state itu berarti bahwa kita semua hidup dalam aturan. Aturan harus ditaati oleh seluruh warga tanpa kecuali. Tidak boleh ada sekelompok warga, atas nama apa pun, yang hidup di luar aturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan di persada Indonesia. Dalam konteks ini Jakarta juga harus menjadi contoh sebagai kota yang bersih dalam arti tidak terjadi praktek korupsi yang merugikan Negara dan rakyat.

Jakarta adalah kota yang dihuni oleh penduduk dari pelbagai latar belakang etnis dan agama. Jakarta sejatinya sebuah kota majemuk sejak zaman dahulu kala.
Hendaknya dapat dikembangkan kerukunan hidup antar warga dengan saling menghormati kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Dan menghormati keberadaan rumah-rumah peribadatan.

Itulah dalam garis besarnya pengertian kota budaya dalam arti yang nyata. Dalam pengertian phisikal Jakarta sebagai kota budaya adalah Jakarta yang tertata indah dan dapat mengemban multi fungsi sebagai Jakarta Megapolitan. Pembangunan daerah pesisir harus lebih banyak mendapat perhatian. Karena pesisir secara tradisional adalah landmark. Para pelayar mengidentifikasi kota yang didekatinya dari arah laut adalah dengan mengenali pesisirnya.

Seperti kata kolumnis Mahbub Djunaidi, orang Betawi adalah orang Melayu. Tentu saja sebagai orang Melayu pertama kali mereka mendiami daerah pesisir Jakarta. Keadaan phisik hunian di daerah pesisir memang memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh seperti daerah Kamal Muara dan Marunda.
Realisasi Jakarta Megapolitan tentu belum berwujud dalam waktu dekat, tapi dapat diperkirakan konsep ini akan terwujud pada suatu saat kelak ketika proses perubahan nilai-nilai kota Jakarta semakin pluralistic, masyarakat semakin terbuka, dan ini membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu.

Dalam konteks inilah dirasa penting untuk merevitalisasi nilai-nilai budaya Betawi agar pertumbuhan Jakarta Megapolitan tidak menjadi ancaman bagi moral masyarakat.
Kita perlu Jakatrta yang secara phisik makin moderen dan berkembang luas, tetapi kita juga harus perduli dengan moralitas dan kehidupan agama masyarakat agar kemajuan material dapat berjalan serasi dengan kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat .

SOURCE : http://www.fauzibowo.com/artikel.php?id=55&option=view

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Komentar
  1. tahmiluhl.emil_qyep mengatakan:

    tulisannya sangat menarik, berguna dan bisa sebagai cermin kota jakarta yang selama ini kita tempati

  2. aden mengatakan:

    yang penting makin indah , mau metro / megapolitran….

  3. aden mengatakan:

    yang penting makin indah saya dukung aja dah . hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s