Arsip untuk Oktober, 2010

Kebudayaan Jakarta Megapolitan

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Jakarta dari metropolitan kini dirancang menuju megapolitan. “Issue” Jakarta Megapolitan marak beberapa bulan lalu sejak mantan Gubernur Ali Sadikin melontarkannya. Tentu saja ada sejumlah persoalan yang harus dibenahi untuk menuju Jakarta Megapolitan yang secara kewilayahan meliputi Propinsi DKI Jakarta, kabupaten dan kota Tangerang, kabupaten dan kota Bekasi, kota Depok, dan beberapa kecamatan di kabupaten Bogor.
Konsep Jakarta Megapolitan tidak dengan sendirinya berarti perluasan wilayah administratif Jakarta dimana meliputi kota dan kabupaten Bekasi, kota dan kabupaten Tangerang, kota Depok, dan sejumlah kecamatan di kabupaten Bogor. Seakan-akan nota bene “wilayah” Jakarta Megapolitan ini sejalan dengan “peta Ciela”.

Tentu saja persoalan perwujudan konsep Jakarta Megapolitan dapat menjadi masalah politis jika dijuruskan ke arah itu karena dapat diperkirakan muncul persoalan peraturan perundangan yang tidak sejalan dengan ini. Wilayah-wilayah kota di lingkungan pemerintah propinsi DKI Jakarta berbeda dalam proses pengangkatan kepala daerahnya dibanding dengan wilayah kota kabupaten sekitar. Di daerah sekitar pengangkatan kepala daerah melalui pilkada sedangkan kepala daerah di wilayah kota Jakata tidak. Di wilayah sekitar terdapat perwakilan daerah yang dipilih melalui pemilu, sedangkan di Jakarta tidak ada melainkan pada tingkat propinsi.
Konsep Jakarta Megapolitan tidak dapat dielakkan mengandung aspek administrasi. Dan itu menyangkut masalah pengaturan dan peraturan yang ditaati semua pihak.
Meski pun pembentukan Jakarta Megapolitan mengandung kerumitan, tetapi pesoalan ini harus mulai dibahas secara bersungguh-sungguh di kalangan masyarakat yang perduli dengan hari depan kotanya.

Kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa untuk terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan di Jakarta, maka Jakarta memerlukan pengembangan wilayah.
Wilayah Jakarta di mmasa lalu berbukit-bukit dan banyak hutan-hutan jati. Sebelum VOC masuk Batavia (1619) terdapat bukit di Jakarta Utara yang disebut Blauwe Bergen dan hutan kayu ulin yang disebut jati batu. Tetapi Belanda menggunduli habis hutan-hutan itu.

Penebangan besar-besaran pada akhirnya membawa dampak buruk. Kota Batavia kekurangan kayu bakar. Karena itu dianjurkan penanaman kayu jati dengan upah yang tinggi. Dalam tahun 1787 pabrik-pabrik gula sudah berdiri di sekeliling Batavia yang memerlukan kayu bakar sementara keperluan tersebut semakin sukar dipenuhi.
Gubernur Jenderal Duurkop, menurut De Haan dalam Preanger, pada tahun 1780 menanam hutan jati di sekitar Batavia. Tetapi penanaman ini pun seratus tahun kemudian menjadi sia-sia karena penebangan.

Jakarta adalah emak bumi yang mengasihi semua penduduknya dengan pelbagai latar belakang etnis dan kepercayaan. Sudah sepatutnya penduduk menyayangi emaknya. Emak bumi yang menyediakan fasilitas pelayanan kota.

Rasa turut memliki antara emak bumi dan penduduk adalah pada disiplin. Penduduk hendaknya mentaati peraturan, memegang kuat disiplin. Tradisi antre sebagai peninggalan kolonial kini nyaris hilang kecuali barangkali di bank. Bahkan di mall orang seling menyelak, tak mau antre.
Fasilitas kota banyak yang dirusak mulai dari halte bus sampai telpon umum. Orang begitu mudah menebang pohon. Di zaman Belanda orang tidak boleh menebang pohon tanpa seizin aparat pmerintah, walau pohon itu tumbuh di halaman rumahnya sendiri.

Sampah dibuang sekehendak hati. Kita miris bila menyaksikan pengendara mobil mewah dengan ringan membuang sampah kulit buah-buahan ke jalan raya. Sungai, atau kali, diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah. Padahal kali berasal dari bahasa India yang artinya semula dewi. Orang zaman dahulu memperlakukan kali seperti dewi, dikitang.

Kesopanan berlalu lintas pun semakin diabaikan. Hak-hak pejalan kaki dirampas di jalan raya, bahkan banyak pengendara kendaraan bermotor menganggap seolah pejalan kaki merupakan gangguan.
Jalan sebagai fasilitas kota banyak yang diambil sebagian untuk keperluan lain seperti berjualan dan terminal bayangan. Sehingga lalu lintas kendaraan menjadi sangat terganggu.
Disiplin sosial sangat lemah, padahal ini merupakan kunci kearah keberhasilan pembangunan. Gunnar Myrdal dalam bukunya yang terkenal Asian Drama mengatakan banyak negara-negara Asia yang tuidak berhasil dalam pembangunan karena gagal menegakkan disiplin sosial masyarakatnya.
Hubungan kota dan penduduknya adalah hubungan ibu dengan anak. Jika “anak” tidak disiplin, maka apa pun cara dan bentuk pelayanan emak bumi menjadi tidak bermanfaat.
Prose transformasi nilai-nilai budaya yang menunjuang perduli lingkungan kiranya harus melalui media pendidikan baik di sekolah mau pun luar sekolah.

Budaya Megapolitan Jakarta

Pengertian Jakarta sebagai kota budaya tidak boleh dipersempit artinya sebagai kota dengan fasilitas kebudyaan dan kesenian. Kita berpengharapan Jakarta sebagai sebuah kota budaya dimana penduduknya menjunjung nilai-nilai agama, moral, dan etika.

Fasilitas kebudayaan sudah banyak dibangun, dan dipugar, pemerintah propinsi DKI Jakarta seperti Taman Ismail Marzuki, Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Wayang Orang di Jl. Senen Raya, Gedung Miss Cicih. Begitu pula fasilitas olahraga. Tetapi sebuah kota tidak dengan sendirinya dapat disebut kota budaya karena adanya fasilitas tersebut. Kota budaya harus juga mengacu pada perilaku penduduk yang berbudaya dalam arti menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, dan etika.
Angka-angka kriminalitas yang kian meningkat menjadi indikasi lemahnya komitmen terhadap nilai-nilai agama, moral, dan etika. Kejahatan dengan kekerasan masih terjadi setiap hari yang mengambil korban jiwa. Penyalahgunaan obat-obat terlarang masih berlangsung. Perjudian gelap terjadi di sejumlah tempat. Praktek-praktek prostitusi, pelecehan sex terhadap anak-anak di bawah umur, perilaku sex menyimpang menjadi berita yang dihidangkan setiap jam oleh pemancar televisi.
Membangun Jakarta sebagai kota budaya berarti menegakkan hukum secara tegas dan konsekuen. Jakarta bagian yang tak terpisahkan dari nation state Indonesia. Jakarta harus menjadi contoh penegakkan hukum. Karena itu harus ditumbuhkan kesadaran bahwa Indonesia sebagai nation state itu berarti bahwa kita semua hidup dalam aturan. Aturan harus ditaati oleh seluruh warga tanpa kecuali. Tidak boleh ada sekelompok warga, atas nama apa pun, yang hidup di luar aturan yang telah ditetapkan dan diberlakukan di persada Indonesia. Dalam konteks ini Jakarta juga harus menjadi contoh sebagai kota yang bersih dalam arti tidak terjadi praktek korupsi yang merugikan Negara dan rakyat.

Jakarta adalah kota yang dihuni oleh penduduk dari pelbagai latar belakang etnis dan agama. Jakarta sejatinya sebuah kota majemuk sejak zaman dahulu kala.
Hendaknya dapat dikembangkan kerukunan hidup antar warga dengan saling menghormati kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Dan menghormati keberadaan rumah-rumah peribadatan.

Itulah dalam garis besarnya pengertian kota budaya dalam arti yang nyata. Dalam pengertian phisikal Jakarta sebagai kota budaya adalah Jakarta yang tertata indah dan dapat mengemban multi fungsi sebagai Jakarta Megapolitan. Pembangunan daerah pesisir harus lebih banyak mendapat perhatian. Karena pesisir secara tradisional adalah landmark. Para pelayar mengidentifikasi kota yang didekatinya dari arah laut adalah dengan mengenali pesisirnya.

Seperti kata kolumnis Mahbub Djunaidi, orang Betawi adalah orang Melayu. Tentu saja sebagai orang Melayu pertama kali mereka mendiami daerah pesisir Jakarta. Keadaan phisik hunian di daerah pesisir memang memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh seperti daerah Kamal Muara dan Marunda.
Realisasi Jakarta Megapolitan tentu belum berwujud dalam waktu dekat, tapi dapat diperkirakan konsep ini akan terwujud pada suatu saat kelak ketika proses perubahan nilai-nilai kota Jakarta semakin pluralistic, masyarakat semakin terbuka, dan ini membawa konsekuensi-konsekuensi tertentu.

Dalam konteks inilah dirasa penting untuk merevitalisasi nilai-nilai budaya Betawi agar pertumbuhan Jakarta Megapolitan tidak menjadi ancaman bagi moral masyarakat.
Kita perlu Jakatrta yang secara phisik makin moderen dan berkembang luas, tetapi kita juga harus perduli dengan moralitas dan kehidupan agama masyarakat agar kemajuan material dapat berjalan serasi dengan kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat .

SOURCE : http://www.fauzibowo.com/artikel.php?id=55&option=view

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Iklan

Kebudayaan Penduduk Pantai Utara Papua

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Bentuk Desa dan Pola Perkampungan
Rumah di desa Daerah Pantai Utara merupakan suatu bangunan persegi panjang. Di atas tiang-tiang dengan tinggi keseluruhan adalah 4,50 meter, dengan didalamnya satu-dua ruangan lain untuk tempat tidur. Rangka rumah dibuat dari balok-balok dengan tali rotan; dinding-dinding terbuat / terdiri dari tangkai-tangkai kering lurus panjang dari daun sagu yang disusun sejajar rapi dan diikat dengan tali rotan juga, dinding tersebut dengan nama Ambon-nya dinding gaba-gaba. Lantai terdiri dari srip-strip panjang dari kulit pohon bakau, yang disusun rapi dan bercelah hampir 1 meter yang bisa menjobloskan kaki. Penempatan rumah baru menurut adat istiadat Pantai Utara pada umumnya memerlukan pesta besar, bernama nuanyadedk.

Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian hidup orang Bgu adalah meramu sagu (pom). Dahulu rupanya ada kelompok kekerabatan unilineral yang menduduki suatu wilayah tertentu yang mempunayi konsep yang tegas mengenai batas-batas hutan sgunya, tapi lambat laun kedepan orang-orang melupakan batas-batas tersebut. Yang menjadi pegangan orang ialah hutan dimana ayahnya biasa mengambil sagu. Pohon setelah tumbang dikuliti dan terasnya yang penuh sagu dipikul dengan sebuah alat dalam bahasa Bgu disebut dengan Tongkiya. Tepung sagu basah yang telah dicuci diremas dengan alat peremas (kaemrun) yang dibuat dari pohon sagu. Dan sagu tersebut dimasukkan dalam karung-karung (saipin) atau dalam wadah (bae) yang dibuat dari daun nibung.

Pada penduduk Pantai Utara, mencari ikan merupakan mata pencaharian yang sama pentingnya dengan mencari sagu. Dalam aktivitasnya mencari binatang kerang, udang, kepiting, binatang pantai, kura-kura, dan sebagainya , semuanya dimakan sebagai lauk pauk pada bubur atau roti bakar. Teknik menangkap ikan dengan tombak, jala buatan sendiri, dengan perangkap ikan atau meracun air pada orang Mentawai itu sangat lazim.
Berburu adalah juga mata pencaharian yang penting, tetapi yang eksklusif dilakukan oleh orang laki-laki. Binatang yang diburu terutama babi, tapi kadang soa-soa, kanguru, sampai binatang kecil seperti tikus, kadal, ular, kelelawar, burung kasuari, dan lain-lain.
Berkebun juga suatu mata pencaharian bagi mereka tapi sifatnya sebagai sambilan.
Produksi di Pantai Utara Irian Jaya dimuali hampir ½ abad yang lalu, waktu penduduk pulau masih dipaksa untuk bekerja bakti dalam tahun 1920 oleh Belanda. Produksi kopra dikerjakan dengan sangat sederhana. Orang hanya menunggu kelapa jatuh, dibelah dan lalu diambil isinya di tempat. Sesudah tahun 1962, produksi kopra sudah amat mundur dan masalah terbesarnya adalah transport yang efektif.

SOURCE : http://ahmedfikreatif.wordpress.com/2010/08/05/2-kebudayaan-penduduk-pantai-utara-papua/

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

Upacara Yadnya Kasada Bromo, Berkah Masyarakat Tengger

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Upacara Yadnya Kasada Bromo merupakan salah satu kegiatan untuk menyatukan suku Tengger di empat kabupaten yakni Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang.

Acara ritual masyarakat Tengger ini memiliki daya tarik sendiri sehingga banyak wisatawan baik lokal maupun internasional untuk menyasikannya.

Yadnya Kasada , pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual, perkawinan, dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakan mantra-mantra.

Setelah upacara selesai, ongkek-ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki Gunung Bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan ke dalam kawah, sebagai simbol pengorbananyang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Di dalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk Tengger yang tinggal di pedalaman, mereka jauh-jauh hari datang ke Gunung Bromo dan mendirikan tempat tinggal di kawah Gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap Tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah.

Kapan ritual ini mulai dijalankan ?

Suku Tengger memiliki daya tarik yang luar biasa karena mereka sangat berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Konon Suku Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri Raja Majapahit) dan Joko Seger (putera Brahmana).

Sejak zaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi-abdi Kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama Hindu, setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo. Dan setelah itu dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap
bulan purnama di bulan Kasodo menurut penanggalan jawa.

Asal Mula Upacara Kasada menurut ceritera, terjadi beberapa abad yang lalu. Pada masa pemerintahan Dinasti Brawijaya dari Kerajaan Majapahit. Sang permaisuri dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Roro Anteng, setelah menjelang dewasa sang putri mendapat pasangan seorang pemuda dari kasta brahma bernama Joko Seger.
Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo.

Sebagai pemeluk agama Hindu, Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat di punden, danyang dan poten.

Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga mandala/zone.

Pertama, Mandala Utama disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan.
Mandala itu sendiri terdiri dari Padma berfungsi sebagai tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan, tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda, dan Angsa.

Beawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.

Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi bentar.

Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/nista atau jaba tengah/mandala utama bisa berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai variasi hiasan. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba tengah/mandala madya ke jeroan mandala madya sesuai keindahan proporsi bentuk fungsi dan besarnya atap bertingkat-tingkat tiga sampai sebelas sesuai fungsinya. Untuk pintu masuk yang letaknya pada tembok pembatas pekarangan pura.

Kedua, Mandala Madya disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara.

Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci letaknya diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura
yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

Ketiga, Mandala Nista disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/ sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.

SOURCE : http://himpalaunas.com/artikel/budaya/2010/08/24/upacara-yadnya-kasada-bromo-berkah-masyarakat-tengger

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

1. Sejarah Bangka Belitung
a. Asal Usul Bangka Belitung
Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan, terdiri dari Pulau Bangka, Belitung serta beberapa pulau kecil lainnya. Kondisi topografi kepulauan ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah dan bukit-bukit. Di derah rawa, banyak tedapat hutan bakau, sementara kawasan perbukitan dipenuhi hutan lebat. Di daerah pesisir, terdapat pantai yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit.

Kepulauan ini terletak di bagian timur Sumatra. Di bagian barat kepulauan, terdapat Selat Bangka yang memisahkan Bangka dengan daratan Sumatera; di sebelah timur, terdapat Selat Karimata; di sebelah selatan, terbentang Laut Jawa; sementara di bagian utara, terhampar luas Laut Natuna yang berhubungan langsung dengan Laut Cina Selatan. Antara pulau Bangka dan Belitung dipisahkan oleh Selat Gaspar.

Kepulauan Bangka dan Belitung merupakan bagian dari wilayah perairan Sumatera, yang menjadi pusat lalu lintas perdagangan dunia sejak dulu kala. Kesatuan wilayah perairan Sumatera tersebut meliputi kawasan Selat Malaka dan Laut Cina Selatan, khususnya yag dibatasi oleh pantai timur Sumatera dan pantai Kalimantan Barat. Di kesatuan perairan tersebut, terdapat Bangka Belitung, dan juga Kepulauan Riau-Lingga. Sejak dulu, perairan ini berfungsi sebagai penghubung antara negeri di atas angin (sub benua India, Persia dan Arab) dengan negeri di bawah angin (nusantara) dan Asia Timur (Cina).

Sejarah mengungkapkan bahwa, kepulauan ini telah lama dihuni penduduk. Pada abad ke-7 M, diperkirakan kebudayaan Hindu telah berkembang dan penduduknya memeluk agama Hindu. Berkaitan dengan kerajaan, belum didapat data sejarah yang menceritakan tentang tumbuh dan berkembangnya kerajaan tertentu di daerah ini. Sejarah hanya mengungkapkan bahwa, kepulaun ini dikuasai silih berganti oleh berbagai kerajaan di nusantara dan juga komplotan bajak laut. Menurut sejarah, kerajaan yang pernah menguasai Bangka Belitung adalah Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Mataram, Banten dan Kesultanan Palembang. Selain itu, Bangka Belitung juga pernah dikuasasi oleh penjajah Belanda dan Inggris.

b. Bangka Belitung dan Penjajah Eropa.

Sekitar tahun 1709 M, ditemukan timah di pulau Bangka. Pada awalnya, penambangan timah dilakukan oleh orang-orang Johor di Sungai Olin, Toboali. Selanjutnya, pada tahun 1710 M, Bangka sudah menjadi sumber timah yang terkenal ke seluruh dunia. Para pedagang dan penambang timah banyak yang berdatangan ke Bangka. Bahkan dikabarkan, Sultan Palembang yang masih memiliki klaim teritorial atas Bangka Belitung mengirimkan utusan ke Cina mencari tenaga ahli penambangan yang sangat dibutuhkan.

Pada tahun 1717 M, mulai diadakan perhubungan dagang dengan VOC untuk penjualan timah. Pada saat itu juga, Sultan Palembang meminta bantuan VOC untuk membasmi bajak laut dan mencegah penyelundupan timah.

Sebagai tindak lanjut berikutnya, pemerintah kolonial Belanda mengirimkan misi dagang ke Palembang, dipimpin oleh Van Haak. Salah satu tujuan pengiriman misi dagang ini adalah untuk meninjau hasil timah dan lada di Bangka. Sekitar tahun 1722 M, VOC mengadakan perjanjian yang mengikat dengan Sultan Palembang, Ratu Anum Kamaruddin untuk memonopoli perdagangan timah. Menurut Van Haak, isi perjanjian adalah:

Sultan Palembang hanya boleh menjual timah pada kompeni(VOC)
Kompeni boleh membeli timah sesuai dengan jumlah yang mereka perlukan.

Akibat perjanjian yang hanya menguntungkan Belanda ini, banyak yang menyelundupkan hasil timahnya ke negeri lain, demi mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Dalam upaya untuk mengeksploitasi Bangka lebih jauh, pemerintah Belanda mengirimkan misi lagi pada tahun 1803 M, dipimpin oleh V.D. Bogarts dan Kapten Lombart.
Dalam perkembangannya, terjadi perubahan penguasa di Bangka Belitung, dari Belanda ke Inggris. Perubahan ini diawali dengan penandatangan Perjanjian Tuntang pada 18 September 1811 M. Berdasarkan perjanjian ini, Belanda harus menyerahkan daerah-daerah taklukannya kepada pihak Inggris, meliputi Jawa, Timor, Makasar, Palembang dan daerah taklukan lainnya.
Selama berada di bawah kekuasaan dua negara kolonial kelas satu dunia ini, nasib Bangka Belitung sangat memprihatinkan. Timah digali secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan nasib kaum pribumi dan lingkungan. Kecurangan, pemerasan dan eksploitasi yang melampaui batas telah menimbulkan kebencian di hati penduduk pribumi, sehingga muncul perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun, di bawah pimpinan Depati Merawang, Depati Amir, Depati Bahrin dan Tikal, rakyat Bangka Belitung mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari daerahnya. Namun, perlawanan rakyat Bangka Belitung ternyata tidak mampu mengalahkan Belanda, hingga Belanda tetap bercokol dan menguasai pulau ini.

Ketika terjadi Perang Dunia II, Bangka Belitung dikuasai oleh pasukan Jepang, terhitung sejak tahun 1942 hingga 1945. pada tahun 1949, kepulauan ini menjadi bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia.

Demikianlah, Bangka Belitung dikuasai oleh berbagai kerajaan besar, mulai dari Sriwijaya, Majapahit, Malaka, Johor, Banten, Kesultanan Palembang, Inggris, Belanda, Jepang, dan terakhir menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2. Silsilah para Penguasa di Bangka Belitung

Berdasarkan catatan sejarah, di Bangka Belitung tidak terdapat satu kerajaan yang berdiri sendiri, karena itu, agak rumit untuk menjelaskan silsilah para penguasanya. Para penguasa yang pernah berkuasa hanyalah perwakilan dari kerajaan induk, seperti Sriwijaya, Majapahit, Johor, Banten dan sebagainya.

3. Periode Pemerintahan Kerajaan di Bangka Belitung

Berdasarkan data sejarah yang ada, belum didapat keterangan yang jelas mengenai pemerintahan suatu dinasti atau keturunan orang tertentu di Bangka Belitung. Pemerintahan yang pernah ada hanyalah perwakilan dari kerajaan induk yang datang silih berganti, tergantung pada kerajaan yang menguasaimya.

4. Wilayah Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung

Bangka Belitung adalah daerah yang dikuasai, bukan menguasai. Oleh sebab itu, menjelaskan wilayah kekuasaan Bangka Belitung tak lebih dari menjelaskan batas geografis pulau ini, yaitu: Selat Bangka di bagian barat; Selat Karimata di bagian timur; Laut Jawa di bagian selatan; dan Laut Cina Selatan (Laut Natuna) di bagian utara.

5. Struktur Kekuasaan Kerajaan di Bangka Belitung

Ketika dikuasai oleh kerajaan besar, Bangka Belitung dipimpin oleh perwakilan kerajaan-kerajaan tersebut. Contohnya, ketika Bangka Belitung dikuasai Banten, yang berkuasai adalah Bupati Nusantara, utusan Sultan Banten; ketika dikuasai Palembang, yang berkuasa adalah Wan Akup dan keturunannya. Bagaimana struktur pemerintahan di sini? Belum didapat informasi yang menjelaskan tentang itu semua.

6. Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat di Bangka Belitung

Secara umum, bisa dijelaskan bahwa masyarakat setempat hidup dari sektor pertanian. Pada masa dulu, mereka banyak yang menanam rempah-rempah. Komoditas yang paling terkenal adalah lada. Ada sebuah alat pertanian khas Bangka yang sering digunakan untuk membersihkan rumput di kebun lada, namanya kedik. Alat ini biasanya digunakan oleh kaum perempuan, karena bentuknya yang ringan dan kecil.

Ketika timah ditemukan, masyarakat setempat banyak yang berprofesi sebagai penggali timah. Pulau ini pernah juga menjadi pusat bajak laut di perairan timur Sumatera. Namun, tidak ada penjelasan, dari mana asal para bajak laut tersebut.

Rumah orang-orang Bangka Belitung biasanya berbentuk panggung, terutama mereka yang bermukim di dataran rendah, seperti pantai dan rawa-rawa. Berkaitan dengan senjata, mereka memiliki senjata yang berbentuk seperti layar kapal, berat dan lebar. Oleh karena itu, senjata ini juga bisa digunakan untuk memotong kayu atau menebang pohon.

Selain itu semua, masyarakat Bangka juga memiliki jenis musik tersendiri yang disebut gambus. Dari namanya, tampak jelas bahwa musik ini berkembang setelah masyarakat setempat mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Berkaitan dengan bahasa, masyarakat setempat menggunakan bahasa Melayu dialek khas Bangka.

SOURCE : http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Asal%20Usul,%20Sejarah,%20Kerajaan,%20Zaman%20Kolonialisme,%20dan%20Kehidupan%20Masyarakat%20di%20Negeri%20Bangka%20-%20Belitung&&nomorurut_artikel=14

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

SUKU TUGUTIL YANG BERSAHAJA

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Di dalam kawasan usulan Taman Nasional Aketajawe-Lolobata masih terdapat komunitas suku Togutil dan suku Tobelo yang hidup di hutan-hutan secara nomaden di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli.

Kehidupan mereka masih sangat tergantung pada keberadaan hutan-hutan asli. Mereka bermukim secara berkelompok di sekitar sungai. Komunitas Togutil yang bermukim di sekitar Sungai Dodaga sekitar 42 rumah tangga. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu dan beratap daun palem sejenis Livistonia sp. Umumnya rumah mereka tidak berdinding dan berlantai papan panggung.

Suku Tugutil yang dikategorikan suku terasing tinggal di pedalaman Halmahera bagian utara dan tengah, menggunakan bahasa Tobelo sama dengan bahasa yang dipergunakan penduduk pesisir, orang Tobelo.

Kenyataanya, komunikasi antara Simon dengan orang-orang Tugutil sangat lancar, seperti tidak menunjukkan adanya perbedaan. Yang terlihat nyata berbeda, budaya dan ciri fisiknya.

Orang Tugutil penghuni hutan yang dikategorikan sebagai masyarakat terasing, sementara orang Tobelo penghuni pesisir yang relatif maju. Selain itu fisik orang Tugutil, khususnya roman muka dan warna kulit, menunjukkan ciri-ciri Melayu yang lebih kuat daripada orang Tobelo.

Ada cerita, orang Tugutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Pada 1915 Pemerintah Belanda memang pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan upaya itu mengalami kegagalan. Dari sini lah rupanya beredar cerita semacam itu. Namun cerita ini rupanya tidak benar. Orang-orang Tugutil memang penghuni hutan sejati, dan sayangnya aku tidak sempat mendengar cerita apa-apa mengenai asal-usul mereka.

Di Totodoku, sekitar 9 atau 10 km dari daerah transmigrasi SP-2, di pinggir ruas jalan Subaim-Buli, tidak jauh dari sebuah sungai yang cukup besar kami menjumpai orang Tugutil.

Tempat itu berupa pemukiman yang terdiri atas beberapa belas bangunan beratap daun sejenis palem yang kontruksinya sangat sederhana sehingga lebih tepat disebut gubuk daripada rumah. Penghuninya, terutama kaum lelaki, sedang berada di dalam hutan, dan beberapa orang lelaki dan wanita tua yang nyaris telanjang; lelaki hanya mengenakan cawat sedangkan wanita bertelanjang dada.

Seorang pemburu tua yang kembali dari hutan, selain hanya bercawat juga membawa sebuah busur sepanjang kira-kira 2 meter dengan beberapa anak panah sepanjang kira-kira 1 meter, dan mata panahnya mereka buat sendiri dari sisa-sisa besi bangunan

Meskipun kebanyakan rumah masih beratapkan daun palem, sebagian diantaranya sudah menggunakan balok dan papan olahan untuk tiang dan dinding.

Di dapur, tempat kami meletakkan barang, nampak sejumlah peralatan makan dan masak seperti lazimnya dapur, kecuali kompor. Sementara, di antara mereka yang telanjang dada ternyata ada beberapa yang segera berpakaian ketika hendak menemuiku.

Dari hasil obrolan, yang menarik adalah kenyataan bahwa beberapa penghuni pemukiman ini memiliki hubungan darah dengan pendatang asal Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara). Yang terakhir ini, katanya, datang ke situ pada 1958, ketika meletus pemberontakan Permesta di Sulawesi.

Kehidupan Orang Tugutil sesungguhnya amat bersahaja. Mereka hidup dari memukul sagu, berburu babi dan rusa, mencari ikan di sungai-sungai, di samping berkebun. Mereka juga mengumpulkan telur megapoda, damar, dan tanduk rusa untuk dijual kepada orang-orang di pesisir. Kebun-kebun mereka ditanami dengan pisang, ketela, ubu jalar, pepaya dan tebu.

Namun karena mereka suka berpindah-pindah, dapat diduga kalau kebun-kebun itu tidak diusahakan secara intesif. Dengan begitu, sebagaimana lazimnya di daerah-daerah yang memiliki suku primitif, hutan di daerah ini tidak memperlihatkan adanya gangguan yang berarti.

SOURCE : http://www.halmaherautara.com/artl/61/kebudayaan-sebagai-alat-perekat-masyarakat

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

PENDUDUK MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN (TUGAS ISD) 2

Posted: Oktober 24, 2010 in Tak Berkategori

Kebudayaan
a. Pertumbuhan dan Perkembangan Kebudayaan
Zaman batu sampai zaman logam
– Zaman batu tua(paleolitikum) Alat yg digunakan masih kasar
– Zaman batu muda(neolitikum) telah memiliki kepandaian mengolah logam dari besi
b. Kebudayaan Hindu, Budha dan Islam
1. Kebudayaan Hindu dan Budha
• Hindu berasal dari india sekitar abad 3 sampai 4 di pulau jawa
• Budha masuk sekitar abad ke-5
• Ajaran budha dapat diatakan berpandangan lebih maju karena tidak menghendaki adanya kasta
2. Kebudayaan Islam
• Pada abad ke 15-16 agama islam dikembangkan di Indonesia oleh wali songo
• Dalam prosesnya dikembangkan juga oleh para Gujarat, arab dan pakistan
c. Kebudaaan Barat
• Unsur kebudayaan barat diawali dengan kedatangan VOC yg membagi menjadi 2 lapisan sosial yaitu kaum buruh dan pegawai
Dalam lapisan sosial kemampuan bahasa belanda menjadi syarat utama untuk mencapai kenaikan kelas sosial

Masyarakat
Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata “masyarakat” sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, yang juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarakat industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional.
Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berasal dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga arti society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna bahwa setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar

PENDUDUK MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN (TUGAS ISD) 1

Posted: Oktober 20, 2010 in Tak Berkategori

Penduduk
• Pertumbuhan penduduk yang makin cepat mendorong pertumbuhan aspek-aspek kehidupan yang meliputi aspek-aspek sosial budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. megakibatkan bertambahnya sistem mata pencaharian hidup dari homogen menjadi kompleks
• Manusia mempunyai kelebihan dlm kehidupan dgn memanfaatkan akal budinya dlm perkembangan budaya
• Akibatnya dari perkembangan kebudayaan ini, mengubah cara berpikir manusia dalam memenuhi kebutuhannya

Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap jumlah dan komposisi penduduk khususnya juga berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi suatu daerah atau Negara bahkan dunia pada umumnya.
Factor demografi yg mempengaruhi pertumbuhan penduduk di suatu daerah
1. Kematian
a. tingkat kematian kasar (CDR/Crude Death Rate)
jumlah orang yang meninggal pertengah tahun dapat dirumuskan :
CDR = D K
Pm
D = Jumlah kematian
Pm = Jumlah Penduduk Pertengah tahun
K = Konstanta = 1000
Penduduk pertengah thn dpt dirumuskan
Pm = ½ (P1+P2)
Pm = P1+(P2-P1)
2
Pm = P2-(P2-P1)
2
Pm = Jumlah penduduk pertengah tahun
P1 = Jumlah penduduk pada awal tahun
P2 = Jumlah penduduk pada akhir tahun
b. tingkat kematian khusus (ASDR/Age Specific Death Rate)
Tingkat kematian dipengaruhi beberapa factor yaitu : umur, jenis kelamin, pekerjaan
Dan dapat dirumuskan
ASDR= Di K
Pm
Di = kematian utk kelompok umur i
Pm = Jumlah penduduk pada pertengah thn kelompok umur i
K = Konstanta = 1000
2. Fertilitas (Kelahiran Hidup)
Yang menyebabkan fertilitas :
1. Sulit memperoleh angka statistik lahir hidup, tidak dicatatkan dalam peristiwa kelahiran/kematian dan sering dicatatkan sebagai lahirmati
2. Wanita mempunyai kemungkinan melahirkan dari seorang anak ( tetapi meninggal hanya sekali )
3. Makin tua umur wanita tidaklah berarti kemungkinan mempunyai anak makin menurun
4. Di dalam pengukuran fertilitas hanya melibatkan satu orang saja
Ada dua istilah asing yang kedua-duanya diterjemahkan sebagai kesuburan :
a. Fecundity (kesuburan)
adalah lebih diartikan sebagai kemampuan biologis wanita untuk mempunyai anak
b. Fertility (Fertilitas)
adalah jumlah kelahiran hidup dari seorang atau kelompok wanita
Tingkat Kelahiran Kasar (CBR/Crude Birth Rate)
Adalah jml kelahiran hidup di suatu daerah pada tahun tertentu tiap 1000 penduduk pada pertengah tahun tersebut
CBR = jumlah lahir hidup x1000 atau BCDR= B K
Jml penduduk pd pertengah thn Pm
B= Jumlah kelahiran hidup pd suatu dunia pd suatu thn tertentu
Pm= jumlah penduduk pd pertengah tahun
K= Konstanta = 1000
GFR(General Fertility Rate) / angka kelahiran umum
Adalah angka yg menunjukan jml kelahiran per 1000 wanita usia produktif, Dapat dirumuskan :
GFR = B K
Fm
B= jumlah kelahiran hidup pd thn tertentu
Fm= jumlah penduduk wanita pd pertengah thn
K= Konstanta =1000
ASFR(Age Specific Fertility Rate)/ Tingkat kelahiran khusus
Dapat dirumuskan :
ASFRi= Bi K
Fmi
Bi= jumlah kelahiran dari wanita kelompok umur i
Fmi= Jml penduduk wanita pertengah thn dlm kel i
K= Konstanta= 1000

Nama : Muhammad Lucky Rokoto Dalimunthe
NPM : 14110757
Kelas : 1KA31
Mata Kuliah : Ilmu Sosial Dasar